Assalamualaikum ![]()
Pengen langsung nanya nih. Pernah berkenalan sama orang sebelumnya? Pernah yaa. Alasanmu mau kenal sama orang itu apa? Pernah mikirin alasannya gak? Gak pernah? Okee mari diskusi soal itu.
Orang-orang yang kita kenal saat ini adalah hasil dari proses yang namanya “kenalan”. Mulai dari masih di dalam kandungan sampai sekarang kita mengalami proses tersebut. Di dalam kandungan kita kenalan sama ibu kita. Setuju gak dengan kalimat tadi? Ibu sangat menyayangi kita meskipun beliau belum tau wujud kita. Ibu memberikan yang terbaik bagi kita tanpa memikirkan,”Apakah nantinya anakku ini akan memberikan yang terbaik juga bagiku?”. Beliau selalu mendoakan kita dari janin, bahkan sebelum Allah menciptakan kita, sampai saat ini. Betapa tulusnya beliau. Betapa ikhlasnya beliau. Sudahkah kita membalas budinya yang begitu baik? ![]()
Dari seorang Ibu kita belajar banyak hal. Hari ini aku ingin membahas satu aja yaitu ikhlas berkenalan dengan orang lain. Sejak pertama kali masuk SMP, aku mengenal yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa). Kalau SD belum ada. Pada masa orientasi tersebut biasanya senior menyuruh siswa baru untuk berkenalan dengan guru, karyawan TU, senior, bapak ibu kantin, teman satu angkatan, dan lainnya. Sebelum berkenalan, aku sudah menyiapkan buku bertuliskan nama, tempat dan tanggal lahir, no. HP dan sebagainya untuk selanjutnya diisi dengan biodata dari orang yang aku ajak berkenalan lengkap dengan TTDnya. aku mengingat jelas bahwa tujuan aku waktu itu adalah berkenalan karena disuruh senior. Karena tidak adanya kesadaran sehingga sudah menjadi kebiasaan, hal tersebut berlanjut hingga kuliah. Saat pengkaderan (istilah “ospek” di ITS Surabaya) aku pun melakukan hal yang sama. Berkenalan karena biodata yang ada dibuku angkatan harus terisi semua. Karena aku adalah angkatan 2011, berarti aku harus berkenalan dengan senior angkatan 2010 hingga angkatan paling tua yaitu 2007. Bagi senior yang mungkin membaca tulisan ini, maaf yaa
. Aku sudah sadar kok dan insyaAllah tidak akan mengulanginya lagi.
Belajar dari seorang Ibu, sekarang aku berusaha untuk ikhlas berkenalan dengan orang lain. Sebenarnya kesadaran itu muncul ketika menonton acara “Mario Teguh Golden Ways”. Kalimat beliau yang masih aku ingat sampai sekarang kira-kira bunyinya begini,”Kenalan dengan orang bukan tentang ‘Apa yang akan aku dapat dari dia?’ tapi tentang ‘Apa yang bisa aku lakukan untuknya?’.” Aku gak inget apakah memang kata “kenalan” yang beliau gunakan waktu itu. Tapi, kalaupun bukan, kalimat tersebut benar dan perlu untuk direnungkan. Aku mengaku salah karena pernah gagal ikhlas dalam berkenalan. Kamu? ![]()
Buku “Your Job Is Not Your Career” salah satunya membahas soal tujuan berkenalan dengan orang lain. Give and Take. Memberi terlebih dahulu baru menerima. Bukan seperti yang kita kenal sejak dulu yaitu Take and Give, namun sebaliknya. Memberi yang terbaik, lalu berusaha ikhlas tanpa menuntut bahwa kita harus menerima sesuatu karena telah memberikan sesuatu. Allah tidak pernah tidur. Mengharap ridhaNya itu lebih baik daripada mengharap yang lain.
Dari awal kuliah sampai sekarang, aku banyak mengenal orang-orang hebat. Di ITS Surabaya ini memang banyak sekali orang hebat. Superman mah lewat. Bukan hanya otaknya yang hebat, tapi insyaAllah juga hatinya. Orang-orang hebat itu mayoritas terlibat dalam suatu organisasi, BEM misalnya. Aku ingin masuk BEM, menjadi bagian dari mereka, orang-orang hebat itu. Karena itu aku harus banyak kenalan mas mbak BEM. Nah disinilah tantangan itu ada. Tantangan untuk tetap ikhlas berkenalan dengan mereka. Bukan hanya untuk mendapatkan jalan agar bisa masuk BEM ITS, tapi benar-benar ikhlas berkenalan dengan para orang hebat itu. Sampai saat ini, aku sedang mengusahakannya. Ikhlas ikhlas ikhlaaasss ~~~ ![]()
Pernah gak berpikir tentang perasaan orang lain jika mereka tau tujuan kita berkenalan dengannya adalah untuk mendapatkan sesuatu darinya? Padahal seharusnya kita memberi terlebih dahulu, dan ikhlas tanpa berharap akan menerima. Pernah gak diajak berkenalan dengan orang dengan alasan kalian adalah orang yang penting? Bagaimana rasanya?
Seseorang yang banyak dikagumi orang lain, misalnya seorang pemimpin. Banyak yang ingin mengenalnya. (Mungkin) sebagian ikhlas dan sebagian lagi berharap menerima sesuatu darinya. Seorang pemimpin adalah manusia. Ya, dia manusia biasa. Sama seperti kita, dia juga butuh seorang teman yang ikhlas berteman dengannya, bukan karena dia seorang pemimpin. Seorang yang hebat seperti dia memang susah untuk mendapatkan teman yang ikhlas berteman dengannya. Meski tidak salah tujuan seseorang ingin mengenalnya adalah agar tertular kehebatannya. Tapi, bukankah ikhlas lebih baik dan selalu lebih baik?
Mulai sekarang, alhamdulillah jika sudah ada yang memulainya dari dulu, mari berkenalan dengan ikhlas. Bukan untuk Take, tapi untuk Give tanpa mengharapkan Take. Salam ![]()
Artikel ini juga diposting di http://dyahoktavia.blogdetik.com/2012/07/01/kenalan-itu-give-bukan-take/ :)


Salam kenal. Percaya saya deh, perkenalan saya ini “give” bukan “take”. Yup… GIVE me a spirit and i’ll TAKE it… :-p